Borneo Art Shop, Benda Seni Bersejarah Khas Dayak dan China

Piring tua dari Dinasti Ming yang berusia ratusan tahun masih tersimpan di lemari kaca Borneo Art Shop di Pontianak.(Foto-foto: OK/BK.co)

Perjalan hidup seseorang tak ada yang dapat mengetahui, kita hanya bisa merencanakan Tuhan yang menetukan. Semakin banyak yang dijelajahi semakin banyak yang dilihat, semakin lama hidup semakin banyak yang didengar. Demikian filosofi hidup yang diutarakan Haji Masri pemilik Toko Borneo Art Shop, Senin (24/8) di Pontianak.

Tidak ada rencana dulunya berdagang benda-benda bersejarah dan purbakala yang sekarang dicari dan digemari sebagian orang. Benda-benda seni China dan budaya Dayak khususnya menghiasi Tokonya yang berlokasi di Kota Pontianak. Beragam Tempayan, Kendi, Guci, piring peninggal dinasti Ming, piring eropah, pedang Belanda, mandau tua yang penuh ukiran, patu-patung orang mati dan patung burung enggang, hingga pintu rumah adat Betang yang berusia ratusan tahun melengkapi koleksi Borneo Art Shop miliknya. “Ini tidak seberapa, dulu koleksi saya banyak, tetapi sekarang jumlah menurun, selain memang saya masukkan ke musem di Pontianak,” ujar Masri yang kini berusia 75 tahun.

Pria yang sudah banyak makan asam garam hidup di dunia ini, sejak dari Pariaman, Padang hingga ke Bukit Tinggi Sumatera Barat, kemudia merantau ke Jakarta sempat mengenyam pendidikan tentara di jaman Soekarno. Namun jalur hidupnya berubah ketika Dia merantau ke Pontianak.

Dari tentara kemudian berdagang. Berdagang Tekstil hingga sembako. Semua telah dilakoninya, hingga pada suatu hari di tahun 1970 – an sepulang dari Singapura, Ia memutuskan merintis bisnis benda sejarah dan purbakala yang khas budaya Dayak. “Saat itu saya jualan benda sejarah yang harganya berlipat-lipat, sementara berdagang tekstil dan sembako tidak demikian, kemudian yang terberat adalah belajar tentang benda-benda sejarah ini, belajar arkeologi, dan ini tidak mudah,” katanya.

Dagang benda seni ini dimulainya sembari mengajar di Batang Tarang Kabupaten Landak, bekal Sekolah Gurunya Ia dipercaya mengajar oleh Camat Batang Tarang saat itu. Sembari mengajar, Ia mencoba menekuni bisnis benda seninya dan ternyata maju, penjualan meningkat, hingga memutuskan buka di Pontianak,

Berdagang dilakoninya saat itu dari Pontianak ke Batang Tarang, Tayan, Sintang, hingga ke pelosok hulu di Kapuas Huu, Nanga Pinuh ke Lubuk Antu lewat Badau, sampai ia pun membeli mesin motor sebagai sarana transportasi di sungai Kapuas, masuk kampung keluar kampung dan mengendarai sepeda motor masuk hutan keluar hutan.”Semua hutan dan kampung sudah saya masuki, saya lebih dayak dari orang dayak saat itu,” katanya sembari tertawa.

Perjalanan itu ia lakoni untuk mendapatkan benda-benda bersejarah yang tidak berguna lagi bagi masyarakat, benda-benda tersebut Ia dapatkan selain dengan sistem barter antar barang, sembako dan obat-obatan, ada juga dibeli. Beragam peristiwa saat hunting benda sejarah, yang mungkin tidak bernilai bagi pemilik sebelumnya, tentu bermacam-macam tantangannya. “Tentu ada peristiwa yang mengancam jiwa saya, seperti menemui orang dayak seperti patung, diam dengan mandau di tangan, mulut dan wajahnya merah, namun seperti patung yang siap perang, kemudian saya digiring ke kampungnya untuk menjelaskan maksud dan tujuannya datang ke kampung mereka, karena saat itu lagi perang antar kampung,” ujarnya.

Dalam berdagang benda seni ini, kata dia, perlu ilmu sebagai bahan untuk mengetahui asli tidaknya benda seni tersebut, sejarah dan asal usul serta budaya. Dari Ming, Sun, Han, Cing, Dinasti China yang mempunyai raja banyak, masa kerajaan ada yang lama dan ada yang sebentar, biasanya kerajaan yang sebentar memiliki benda yang bermodel dan berseni tinggi dan jumlahnya terbatas. Kemudian kenapa benda seni ini bisa mahal dan terbatas jumlahnya. Semua itu Ia pelajari.

Dalam bisnis benda seninya ini banyak pula pelajaran sejarah yang tanpa sengaja ditemuinya, seperti yang Ia alami di Kapuas Hulu saat menemui orang dayak yang tinggal dibawah pohon di hutan yang memiliki piring dari abad ke 6. Setelah dilihatnya dan dipelajari ternyata benda tersebut berasal dari Dinasti Sung, Dari sini dapat disimpulkan kenapa piring tersebut terdampar ke Kapuas Hulu, dan ternyata orang Dayak Kapuas Hulu merupakan keturunan dan asimilasi dari Dinasti Sung.

Kini setelah puluhan tahun melakoni bisnis benda sejarah purbakala ini, Haji Masri masih menunggui tokonya, meskipun tidak selengkap dulu, benda seni di tokonya boleh dikatakan memiliki nilai seni yang tinggi. Hanya saja penjualan tidak seramai dulu, serta koleksi tidak selengkap kemarin, karena benda-benda tersebut telah bertebaran ke daerah hingga negara luar sana. Bahkan khabarnya benda-benda milik Dinasti dari China kembali ke asalnya, dibeli dan dikoleksi mereka yang tinggal di China.(Odie)

Berikut Foto-foto benda sejarah dan purbakal yang dimiliki Borneo Arts Shop :

image2
Kayu tempat tulang-belulang orang Dayak yang sudah tiada, terbuat dari kayu belian yang berusai ratusan tahun

image3
Tempat menyimpan tulang orang yang sudah mati

image4

image5
Lukisan lelaki dan perempuan yang terbuat dari ukiran kayu

image6
Kain Tenun Dayak berusia tua

image7
lemari atau bufet masyarakat dayak

image8
Meja dan patung ukiran khas Dayak

image9
Guci dari China

image10
Beragam jenis mandau yang berusia tua

image13
Meja sembahyang orang China

.

Share Button

Ekonomi[ View All ]

Harga Ikan dan Ayam di Pontianak Naik

Harga Ikan dan Ayam di Pontianak Naik

PONTIANAK – Harga ikan dan ayam di sejumlah pasar yang ada di Pontianak dalam beberapa minggu terakhir mengalami kenaikan cukup signifikan bahkan mencapai di...
Presiden Ingin Warga Perbatasan Menikmati “Satu Harga BBM”

Presiden Ingin Warga Perbatasan Menikmati “Satu Harga BBM”

JAKARTA – Presiden RI Joko Widodo menginginkan masyarakat Papua di pegunungan dan perbatasan bisa menikmati harga BBM dan harga bahan pokok sama dengan wilayah...
Realisasi Investasi Kalbar Semester I Rp8,33 Triliun

Realisasi Investasi Kalbar Semester I Rp8,33 Triliun

PONTIANAK – Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kalbar mencatat realisasi investasi Semester I 2017 (Januari -Juni) di Kalbar mencapai Rp8,33...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *