French-Pot Online Shopping, Filosofi Ice Cream

IMG_20140816_145310

Ditengah pertumbuhan industri baju dan fashion peluang ini ditangkap pengusaha muda asal Jakarta ini.

Menurutnya bisnis fashion sangat menjanjikan, hanya saja bagaimana kita melihat peluang bisnis ini dan mewujudkannya menjadi bisnis yang dapat diandalkan, tentu memerlukan perjuangan dan ketekunan serta wawasan dan skill terkait design, pola baju dan pangsa pasar serta cara memasarkannya.

Ketekunan dan panggilan jiwa serta dukungan suami dan keluarga  merupakan modal utama dalam menekuni bisnis baju ini. Seperti itulah yang dirasakan Arsita Apriana Adidwiwidjana pemilik sekaligus designer French-Pot saat ngobrol-ngobrol dengan BeritaKalimantan.co di Pacific Place Jakarta.

Sita panggilan akrabnya mulai menekuni bisnis baju wanita khususnya untuk segmentasi wanita kantoran atau wanita karir sejak tahun 2007 hingga sekarang. 

Menurutnya bisnis fashion ini ditekuninya karena panggilan jiwa yang didasarkan pada selera wanita yang ingin gonta ganti selera baju dan style tetapi dengan harga yang terjangkau. “Ya gak mahal – mahal banget, tetapi bisa ganti ganti suasana dan selera baju,” ujarnya.

Bisnis fashion yang digelutinya ini memang bertolak belakang dengan kuliahnya di Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Trisakti Jakarta. Namun apa mau dikata, panggilan jiwanya begitu kuat untuk terjun di bisnis ini. 

Sedari kuliah di Trisakti keinginan sekolah design baju begitu kuat. Tetapi orang tua ingin Sita menjadi arsitek, saking sukanya mendesign baju, meja gambar arsiteknya pun menjadi tempat melampiaskannya menggambar pola baju.

Hingga sampai kuliah S2 di Amerika Serikat, keinginannya menjadi designer baju tetap kuat.

“Kuliah pun tanpa passion, stress banget tetapi dikuat-kuatin, ekstra energi, sampai teman-teman mungkin ngeliat nih orang ambisius banget ya,” ujarnya sembari tertawa.

Setelah selesai kuliah S2 di Illinois Institute of Technology di Chicago Amerika Serikat dan lulus tahun 1998, Sita bekerja sesuai dengan porto folio property, sesuai dengan sekolahnya manajemen konstruksi,  kerjaannya pun memanage gedung-gedung hingga ke daerah.

Bahkan sebagai orang arsitek, Sita pun pernah membangun rumah dengan luas tanah 800 hingga 1000 meter. “Artinya yang punya rumah dengan luas tanah seperti itu kan bisa kita liat kemampuan pemilik rumahnya,” ucapnya.

Hingga pada akhirnya tabungannya terkumpul dan pada suatu waktu Ia melihat baju yang disukainya dengan brand terkenal (branded) namun harganya yang mahal, timbul ide membuat baju seperti itu. Dan tanpa sengaja banyak teman-temannya yang nenyukai dan membeli darinya.

Dari situ timbul ide bisnis fashion dan dengan 2 orang temannya di tahun 2007 membuka toko di Mall Ambasador. Tetapi apa mau di kata, brand baju FAB yang dibangun bersama temannya itu di Ambasador tak berhasil diterima pasar. Kemungkinan, kata Sita karena marketnya tidak tepat, hingga akhirnya mereka pindah dan membuka toko di daerah Cipete Jakarta Selatan.

Di Cipete bisnisnya mulai meningkat, tetapi lagi-lagi ada saja kendala, khusushya dengan karyawan. Kemudian tokonya pindah ke Dharmawangsa Square selama 2 tahun disana joint dengan temannya pun tak bisa dilanjutkan, karena temannya mulai jenuh dan ada yang menikah tinggal diluar.

Sita sembari kerja masih memikirkan, bagaimana keinginannya itu berbisnis fashion tetap jalan. Akhirnya diputuskan setelah tabungannya cukup untuk membuat brand sendiri dan memproduksi serta menjualnya sendiri.

Tanpa sengaja katanya, saat menyaksikan tayangan televisi yang menayangkan soal ice cream, Sita mengambil nama alat ice cream french pot untuk brand bajunya. Filosofinya ice cream sama dengan baju yang memiliki citra rasa dan selera berbeda-beda. Namun yang pasti konsep baju ciptannya itu berdesign middle up tetapi harga bersahabat.

“Ice cream kan kayak baju juga punya rasa dan selera bermacam-macam,” ujarnya sembari tertawa.

Kemudian mulailah Ia ciptakan baju dengan brand French-Pot yang kemudian Ia fokuskan untuk menjualnya lewat online shopping. 

“Kan ribet ya kalau harus buka toko, sewanya, orangnya, akhirnya aku putuskan toko online,” ujarnya.

Sembari membangun website French-Pot, baju sudah mulai diproduksi dan ditawarkan serta kerjasama dengan online shopping lainnya.

Saat ini, hasil kerjasama online shopping lainnya mencapai omset Rp150 juta per bulan.

Kemudian setelah setahun lamanya membangun website French-Pot dan 6 bulan ini berjalan dengan website www.french-pot.com menurutnya pasarnya mulai tumbuh. Selain Jakarta, French- Pot mulai dilirik pembeli asal daerah seperti dari Medan dan Kalimantan.

“Produksi jalan terus, saat ini ada sekitar 30 model yang dipasarkan selain 30 model lagi on going proses,” katanya. “Ada 3 koper desgin yang siap diproduksi,” lanjutnya.

Dari sisi produksi, Sita mempercayakan ke konveksi yang dikenalnya baik di Jakarta maupun yang di Bali. 

“Designya masih dari aku kemudian dibuat polanya dan diserahkan ke konveksi,” katanya.

Omsetnya per bulan cukup lumayan, French-Pot yang dikenalkan lewat beragam media sosial telah mendapat perhatian dan pembeli baik dari Jakarta maupun daerah. 

“Ya sesuai dengan designnya, pembeli kebanyakan wanita kantoran dan karir, dan kita fokus sampai saat ini di segmen itu,” jelasnya.

Odie Joe Krisno

IMG_20140816_145823

IMG_20140816_154355

Share Button

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *