Jelajah Ekowisata Bekantan di Pulau Bakut

bekantan-si-monyet-hidung-panjang_poto_matoa_org_

BANJARMASIN – Bekantan merupakan salah satu primata unik. Jumlahnya kian sedikit, mengingat kondisi alam tempat tinggalnya mengalami kerusakan. Sebagai langkah konservasi, tempat tinggal Bekantan di Pulau Bakut, Kalimantan Selatan (Kalsel) sudah ditetapkan sebagai kawasan Taman Wisata Alam yang berbasis konservasi Bekantan sesuai SK Menteri Kehutanan RI Nomor 140/Kpts-II/2003 tanggal 21 April 2003.

Dilansir Beritasatu.com, Rabu (18/3/2015), Pulau Bakut juga merupakan rumah dari 31 macam jenis burung serta reptil. Reptil yang ada seperti biawak (Veranus salvatore), Ular sanca (Phyton reticulatus). Bahkan dulu pernah terdeteksi adanya buaya muara (Crocodillus porasus), lalu yang tak kalah menariknya adalah ekosistem hutan mangrove dengan tumbuhan rambai (Soneratia caseolaris), serta Jingah ( Gluta renghas).

Dari sisi kehidupan sosial, pulau Bakut juga merupakan tempat tinggal masyarakat Suku Banjar dengan budaya sungainya. Tidak jauh dari pulau ini terdapat lokasi pasar terapung dan pulau Kembang yang dihuni kerajaan kera (Macaca fascicularis). Lalu saat sore bisa melihat matahari terbenam di atas pulau Bakut.

Belum lagi keberadaan Jembatan Barito yang membentang membelah pulau ini. Sayangnya, fasilitas di pulau Bakut ini belum terlalu lengkap.

Karena itu, Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) meminta pemerintah Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan mengembangkan Pulau Bakut sebagai objek ekowisata Bekantan

“Yang bisa ditawarkan dari kegiatan wisata Pulau Bakut adalah, pengamatan perilaku Bekantan, ekosistem rawa dengan hutan mangrovenya, dan yang tidak kalah menariknya ialah kegiatan wildlife photography yang saat ini banyak digandrungi wisatawan asing,” kata Ketua SBI, Amalia Rezeki.

Share Button

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *