Jelajah Kuliner Khas Kaltim, Peyek Kepiting Kampoeng Timoer

2014-08-06 17.08.43

Tergerak untuk mengembangkan usaha kuliner dengan cita rasa khas Kaltim, Filza Budi Ambia, pria asal Purwekerto memulai usaha olahan kepiting menjadi camilan khas Kota Balikpapan. Peyek Kepiting yang berlabel Kampoeng Timoer tersebut kini cukup dikenal oleh masyarakat Kaltim, bahkan telah dipasarkan hingga ke Jawa dan Sumatera.

“Bicara oleh-oleh khas Kaltim, sejak dulu kita kenal kalau kepiting menjadi ikon atau primadona para pendatang yang ingin menikmati kuliner Balikpapan. Namun, belum ada pengembangan bahan baku kepiting untuk dijadikan makanan ringan. Ide tersebut, tiba-tiba muncul dan ternyata peluangnya masih besar,” ungkap Filza yang telah memulai usaha peyek kepiting sejak Februari tahun lalu.

Ia menjelaskan, formulasi rasa kepiting yang dipadukan dengan makanan khas jawa tersebut ternyata mampu menarik perhatian pasar, terbukti belum satu tahun usaha kecil yang dikembangkannya telah meraup omzet senilai Rp150 juta perbulan.

“Walaupun terhitung usaha kecil, namun saya mencoba mendesain sistem pemasaran brand peyek kepiting kampoeng timoer ini dengan standar nasional. Artinya kedepan, tidak hanya dikenal sebagai cemilan khas Kaltim tapi menjadi cemilan khas nusantara,” tegasnya.

20140806_125855-2

Ia menjelasakan produksi peyek berbahan dasar kepiting yang dipasok dari para petani lokal tersebut mampu mencapai 500 pax per hari. Sementara permintaan atau pemesanan secara masal bisa melampaui rata-rata produksi perhari.

“Membatas jumlah produksi memang kami lakukan, untuk menjaga kualitas rasa dan juga originalitas dari pengembangan usaha ini. Sistem inden juga dilakukan, pasalnya kami ingin pasar juga bisa menarik minat masyarakat untuk penasaran membeli produk kami,” jelasnya ketika ditemui di pabrik pengolahan yang berlokasi di kawasan Kampung Timur, Balikpapan Utara.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengatakan produk yang dikemas dalam tiga varian dibandrol seharga Rp10 ribu hingga Rp20 ribu dalam wujud kemasan plastik dan kardus. Dimana pendistribusian produk dilakukan dengan mamasok ke toko-toko penjulan jajanan khas kota Balikpapan serta unit keliling yang menjajakan peyek kepiting di setiap sudut kota Balikpapan, dimana sistem pengelolaannya dilakukan oleh masing-masing re-seller yang kini berjumlah 50 lebih.

“Kami sedang membangun pabrik baru, dengan kapasitas empat kali lipat dibanding pabrik yang sekarang. Dengan harapan bisa membenahi manajemen pemasaran dan produksi hingga memperluas jaringan distribusi hingga ke seluruh pelosok negeri,” pungkas Filza yang kini mampu mempekerjakan lebih dari 15 orang.(Sophie Razak)

Share Button

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *