Kalbar Bakal Menjadi Sentra Utama Bawang Nasional

Gubernur Kalimantan Barat Cornelis, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaeman, Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Kalbar Frederika Cornelis, anggota DPR RI dr. Karolin Margret Natasa, panen bawang merah di lahan percontohan PKK Provinsi Kalbar di Ngabang Kabupaten Landak, Sabtu (22/10).(HC)

LANDAK – Nampaknya sentra bawang merah akan berpindah ke Kalimantan Barat, hal ini seiring optimisme Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman ketika melakukan panen bawang merah, di lahan percontohan PKK Provinsi Kalbar di Ngabang, Kabupaten Landak, Sabtu (22/10).

Bawang yang ditanam di lahan 1 hektar itu bisa menghasilkan 16 ton. Panen tersebut merupakan inisiatif dari para ibu-ibu PKK yang mengeluhkan tingginya harga bawang merah di pasar hingga mencapai Rp40 ribu/kg. Panen tersebut menjadi bukti bawang dengan kualitas baik dapat ditanam di Kalbar.

Hadir dan ikut memanen juga, Gubernur Kalimantan Cornelis serta istri Gubernur Frederika, Wakil Ketua Komisi IV Daniel Johan, Anggota Komisi IX Dapil Kalbar Karolin Margret Natasa. Bupati Landak, Jakius Sinyor dan pejabat di pemprov Kalbar.

“Kami apresiasi Ibu Gubernur (Kalbar), ini gagasan luar biasa dimulai menanam bawang. Produksinya 16 ton per hektar. Kalau ini dikembangkan luar biasa, kalau ada 10 ibu Gubernur di daerah lainnya bukan main, swaswmbada pangan dapat segera terwujud,” ujar Amran optimis.

Menurut Amran, ini merupakan pertama kalinya tanam bawang merah di Kalbar. Sebelumnya bawang merah hanya berasal dari Jawa Tengah, sehingga biaya distribusinya membuat harga bawang mahal, ongkos angkutnya juga konsumen yang bayar.

Saat ini harga bawang merah di Kabupaten Landak sekitar Rp 40.000/ kg sehingga dengan volumen panen tersebut, petani mendapatkan omzet Rp600 juta. Dengan modal Rp200 juta per hektar hasilnya sungguh luar biasa.

Amran mengatakan hal ini akan menguntungkan daerah. Oleh karenanya tahun 2017 ditargetkan ada 100 hektar lahan untuk ditanami bawang agar menambah pendapatan daerah dan mengurangi inflasi akibat biaya distribusi.

“Kita hitung saja 1 hektar bisa Rp600 juta. Ini luar biasa, harga saat ini di Kalbar, biaya produksinya Rp200 juta. Ada untung Rp400 juta, itu per bulan Rp200 juta. Itu jauh dari gaji menteri sehingga kami minta pak Kadis ini di tambah 100 hektar,” beber Amran.

Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Kalbar Frederika Cornelis, mengaku banyak ibu-ibu mengeluh harga bawang mahal karena dikirim dari Jawa oleh karena itu munculah percobaan untuk menanam bawang di lahan 1 hektar. “Karena setiap bulan itu naik harganya kita coba tanam bawang ternyata bisa. Mau lihat 1 hektarnya seberapa sih ternyata dengan 16 ton jadi nggak sia-sia juga,” ujar Frederika.

Frederika yang juga Ketua Forikan Kalbar mengatakan, ini baru percontohan kalau sudah 16 ton, dan akan ada bantuan cuma-cuma 100 hektar. “Mudah-mudahan kami tim penggerak PKK Provinsi bisa mensosialisasikan sehingga meyakinkan masyarakat itu mau nanam bawang karena kalau orang desa itu nggak mau dia kalau belum lihat kerja nyata,” kata Frederika lagi.

 

Share Button

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *