Menepis Sepi Menganyam Tikar Ramin

Tahanan Lapas 2A Pontianak trampil membuat tikar yang bisa dipasarkan hingga Malaysia, mengisi waktu sambil berkarya.(Foto-foto: Syamsul Arifin/BK.co)

Merajut Masa Depan di Balik Lapas Klas 2A Pontianak

Hotel Prodeo yang menyebutkan penjara dengan nama manis Lembaga Pemasyarakatan adalah kampus kejahatan, tak selamanya benar.

Jangan disangka di balik tembok dan jeruji besi Lembaga Pemasyarakatan, itu hanya ada narapidana yang duduk-duduk termangu menghabiskan hari-hari yang muram.

Masuklah dan dengarkan betapa ramainya suara orang-orang yang sibuk di dalam Lapas Kelas II A Pontianak itu. Berbagai kegiatan terkoordinir dilakukan para penghuninya yang tengah kehilangan hak kebebasannya. Ada yang memangkung-mangkung besi, menggergaji kayu, mengetam papan, mencangkul tanah hingga celotehan perempuan tua muda sambil membuat beraneka penganan di dapur. Itulah produktivitas sebuah lembaga pembinaan orang-orang yang lagi tersisih sementara dari masyarakat ramai.

Hari yang panjang bagi si Codet, begitu saja kita sebut namanya, sudah berubah sejak empat bulan silam. Dia bersama puluhan kawannya setiap hari punya kesibukan bergulut dengan kayu.

“Kami mengerjakan ini dengan senang hati, tidak hanya mengusir sepi. Kegiatan ini merupakan keterampilan buat kami. Semoga ketika kami keluar dari Lapas ini bermanfaat baik bagi diri sendiri, keluarga maupun orang lain,” tutur Codet yang menyambanginya di bengkel Lapas, pekan lalu.

Codet adalah Napi kasus Narkoba yang kesal dengan Kejaksaan dan Pengadilan Mempawah, yang memvonisnya tahun atas kepemilikan obat terlarang tidak sampai satu gram serbuk ekstasi. Dia dan keluarganya sudah lintang pukang mencari upaya agar hukuman lebih setimpal dari kekeliruan hidupnya. Apa daya, jangankan harta uang pun tak punya.

Codet yang dilimpahkan dari Mempawah diperkenalkan dengan keterampilan baru, membuat tikar. Bukan merajut tikar pandan atau plastik, tapi menganyam kayu menjadi tikar yang tampak mewah karena dipoles seperti profesional.

“Keterampilan ini baru dilaksanakan empat bulan di Lapas. Kami yang dilatih dan kerja buat tikar ini hanya 50 orang,” kata Codet.

Dari 659 warga binaan Lapas, hanya 50-60 orang yang menekuni pembuatan tikar berbahan baku kayu ramin (gonystylus bancanus) olahan yang didatangkan dari Desa Wajok. Ini jenis yang di erabooming kayu merajai dunia sebagai bahan baku plywood, mebel, dan tripleks.

Sedikitnya melalui 13 proses yang dikerjakan narapidana untuk membuat sebidang tikar. Mulai bahan dasarnya berupa pembelahan kayu menjadi reng, kemudian dipertipis lagi dan dipotong kecil-kecil untuk dirajut menjadi tikar. Ada yang meraut, membuat aksesoris dari kayu, bentuk-bentuk hiasan, melubangi, sampai merakitnya menjadi tikar. Kayu di potong-potong menggunakan peralatan konvensional seperti gergaji, yang disiapkan pihak Lapas.

Tikar kayu berbahan sengon ini ringan dan indah bila dipoles dengan pernis dengan berbagai pola menarik. Biasanya digunakan sebagai alas atau dudukan perangkat meubel. Atau sebagai penutup lantai porselen agar terlihat lebih artistik.

Ini bukan kerja asal-asalah, walaupun amatiran, terlihat mereka focus dan serius bekerjasama agar tak terjadi kesalahan. “Kalau salah, kita harus memulainya lagi dari awal,” kata Napi lainnya.

Mereka dibimbing dan diajarkan oleh instruktur yang melakukan pendampingan. Selesai merajut structural tikar dengan rapid an dihaluskan, pekerjaan terakhir adalah pengecatan. Tidak menggunakan kompresor, tapi cukup dengan kuas.

Ternyata, dari narapidana yang dijebloskan ke Lapas Klas IIA Pontianak dengan berbagai kejahatan, ada yang punya bakat menjadi pekerja yang baik, tekun dan terampil. “Ya kami memang bekas pelaku kejahatan. Ada yang karena sengaja dan banyak yang tidak sengaja masuk penjara. Jadi ada hikmahnya juga masuk Lapas, kita diberikan kepintaran untuk bekerja sebagai bekal di luar,” kata Napi yang terlihat serius sejak siang.2015-01-27 18.46.17

Edi Sunarto, Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas kelas 2A mengakui kalau  pembuatan tikar dari kayu ini baru dimulai empat bulan lalu dengan mendatangkan kayu dari Wajok, Kabupaten Pontianak.

“Untuk menyelesaikan selembar tikar makan waktu dua hari. “Seminggu selesai 20 lembar tikar. Untuk premi yang di bayarkan kepada warga binaan kisaran Rp35 ribu-Rp60 ribu per minggu. Premi itu agar mereka senang mengerjakannya dan semangat,” kata Edi.

Dari bakat atau potensi yang mereka miliki diharapkan menjadi bekal bagi mereka sekeluar dari bangunan bertembok tinggi berpagar kawat berduri. Dulunya di dunia bebas adalah penganggur, tukang berkelahi, pelanggar hukum,  perlahan berubah sesuai karakter dan kadar kesadaran masing-masing.

“Ini bekal untuk masa depan kalau keluar dari Lapas. Kalau kita tak diterima bekerja kan keterampilan ini bisa jadi modal menyambung hidup keluarga,” kata seorang warga binaan dengan sorot mata penuh harapan.

Omset Jutaan, Dipasarkan Hingga ke Malaysia

Ditengah isu narapidana mengatur bisnis narkoba dari balik penjara, warga binaan Lapas mencari duit halal untuk tabungannya.

Tekun bekerja sambil belajar di balik tembok tinggi berpagar kawat berduri, narapidana yang dalam istilah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) disebut warga binaan, bisa memperoleh uang halal. Salah satunya menganyam tikar ramin yang eksotis itu.  Ini semacam “proyek” terbaru yang bernilai ekonomi lumayan tinggi.

Sebut saja Codet, dia mengaku kegiatan menepis hari-hari panjang yang menjemukan sudah berakhir. Selain akrab dengan sesama, keterampilan baru ini memberikan penghasilan. Sehingga tak sekadar mata lepas badan terkurung.

“Kalau untuk kebutuhan selama dalam lapas sih, sangat cukup. Karena dalam seminggu kami mendapatkan uang Rp80 ribu hingga Rp125 ribu. Apalagi keluarga jarang membesuk kami,” tutur Codet.

Dia pun terkenang, ketika kasusnya dalam proses setengah mati mencari uang ratusan juta rupiah agar tuntutan dan vonis di pengadilan bisa ringan. Kini dalam Lapas dia diberi pekerjaan, diberi upah, diberi keterampilan pula.

“Kalau kami melakukannya sendiri rasanya tak mungkin. Karena melihat dari modal untuk membuat tikar ini sangat mahal. Baik alatnya maupun kayunya. Saya kalau bebas nanti mengusahakan untuk memasarkannya aja,” ungkap napi yang divonis 4 tahun ini.

Tak hanya Codet, rekan senasibnya kita sebut saja Wandol, merasa mendapatkan jalan sekaligus harapan untuk meninggalkan masa kelam hidup di luar dan dalam penjara. Dia menekuni teknik pengecatan tikar ramin.

“Ini kegiatan dan ilmu yang tadakakan pernah bise dilupakkankarena mendapat penghasilan selama dalam tahanan. Siape yang nak ngasik duit ke kite selama di tahanan, kalau bukan kite bebuat yang bermanfaat. Semoge selama kami menjalani hukuman ini, ade yang bermanfaatdibawak keluar,” katanya tulus.

Wandol cukup termpil karena selama empat bulan ini setiap hari bergumul dengan kayu dan peralatannya. Untuk menyelesaikan selembar tikar ukuran besar kecil khusus pengecatannya saja, makan waktu dua jam.

“Paling banyak ada enam tikar sehari. Dan per tikar untuk mengecatnya kami dibayar dari Rp3000 hingga Rp4000. Itupun tergantung ukurang besar kecilnya. Dari pagi baru berhenti pas waktu sholat,” katanya tanpa menoleh penuh konsentrasi pada kerjaannya.

Bagi pengangguran di luar sana tentu tak gampang memperoleh Rp18.000-24.000 sehari kecuali para pengemis jalanan. Bagi para terhukum yang disosialisasi kembali ke masyarakat jumlah itu menggembirakan buat ditabung. Inilah hikmah menimba ilmu dan keterampilan gratis tapi dapat uang.

“Pembuatan tikar semacam ini di Indonesia baru ada dua, yakni Lembaga Pemasyarakatan di Kalbar dan Semarang,” ungkap Edi Sunarto, Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Klas 2A Pontianak.

Setiap minggu bisa belasan hingga puluhan tikar ramin diselesaikan dengan omzet jutaan tiap bulannya. Ini tikar memang tidak murah. Karya para warga binaan itu dijual kisaran Rp300 ribu hingga Rp600 ribu harga agen yang berada di Kota Pontianak. Agen menjualnya ke pasaran atau keluar Kalbar hingga ke Malaysia.

Program kemandirian menjadi bekal bagi narapidana selama menjalani proses hukum. “Agar saat para narapidana ini selesai menjalankan hukumannya kembali ke masyarakat telah memiliki keterampilan untuk kemandirian,” kata Edi.

Pembinaan kemandirian ini, lanjut Edi, tidak bisa dilakukan sendiri. Aparat pembina pemasyarakatan Lapas perlu didukung oleh instansi terkait, dan juga masyarakat. “Seperti dukungan dari pemerintah baik Kota mapun Provinsi. Dari Bank Indonesia pun mendukung serta memberi pelatihan kewirausahaan,” jelasnya.

Keterampilan dimaksudkan agar setelah menjalani hukuman narapidana mendapatkan ilmu dari hasil pembinaan. “Dalam memberikan pembinaan, pihak Lapas selalu melihat kemampuan dan minat serta bakat para napi. Baru kemudian disalurkan melalui suatu pekerjaan yang disenanginya,” ujarnya.

Edi berharap, pihak swasta juga mau berbagi dengan memasarkan hasil kerajinan serta kuliner produk Lapas Klas 2A Pontianak. Kejahatan itu sendiri adalah produk masyarakat komplit termasuk penyelenggara pemerintahan. Jadi semua pihak diharapkan tidak alergi terhadap hasil kerja narapidana.

Yang jelas, kata Edi, dengan bekal keterampilan masing-masing warga binaan diharapkan mampu menjalani kehidupan lebih baik dengan berwirausaha setelah mereka bebas nanti.

“Mengarahkan warga binaan pada sikap, perilaku dan kehidupan yang lebih baik, merupakan bagian dari tugas kami di Lapas. Lapas adalah lembaga pembinaan, bukan pembinasaan, ” ujar Edi.

Dia pun memahami banyak orang menilai bahwasanya sebuah Lapas merupakan kurungan yang sangat terbatas dan mengerikan. Kerap dibayangkan kalau Lapas oleh sebagian masyarakat penuh dengan manusia penuh ancaman. Juga tempat peredaran narkoba serta perkelahian.

“Dengan pembinaan, paling tidak lebih banyak yang sadar dan insyaf kembali ke jalan benar, jalan Tuhan,” ujarnya.

Share Button

Ekonomi[ View All ]

Kebutuhan Gula Di Kalsel Anjlok

Kebutuhan Gula Di Kalsel Anjlok

BANJARMASIN– Ketua Asosiasi Gula Bersatu Kalimantan Selatan Aftahuddin mengatakan Kebutuhan gula di provinsi ini anjlok dari sebelumnya 12 ribu ton per bulan menjadi hanya...
Mentan Buka Hari Pangan Sedunia Di Kalbar

Mentan Buka Hari Pangan Sedunia Di Kalbar

KUBU RAYA – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman membuka peringatan hari pangan sedunia XXXVII yang digelar di Kubu Raya, Kalbar, Kamis. Peringatan hari pangan...
Ibu-ibu di Balikpapan Demo Dukung Transportasi Daring

Ibu-ibu di Balikpapan Demo Dukung Transportasi Daring

BALIKPAPAN – Ratusan ibu-ibu menggunakan kostum serba hijau dan membawa panci mendatangi gedung DPRD Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa, guna menyampaikan sikap menentang penutupan transportasi...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *