Musik Tradisional Sebagai Ciri Khas dan Eksistensi Daerah

JAKARTA – Musik adalah salah satu kekayaan seni budaya yang dimiliki Indonesia, terutama musik tradisonal dari daerah-daerah yang sangat beragam baik nada maupun jenis alat musiknya. Sesuai visi dan misinya Anjungan Kalimantan Timur Taman Mini “Indonesia Indah” (TMII) ikut berperan aktif dalam upaya memperkenalkan, melestarikan dan mengedukasi masyarakat tentang khasanah musik tradisi daerah Kaltim dalam kegiatan lomba yang digelar di TMII Jakarta, bertajuk Parade Musik Daerah ke-3.

Menurut Kasi Promosi dan Informasi selaku Pimpinan Anjungan Kaltim, Hj Dra Novarita MM, keikutsertaan Diklat Musik Anjungan Kalimantan Tmur ini bertujuan untuk mempertahankan eksistensi musik tradisional dan melestarikan musik khas daerah Kaltim serta memperkenalkan musik tradisi Kaltim agar dapat dikenal secara luas oleh masyarakat.

Target utama yang ingin dicapai dalam keikutsertaan kegiatan ini adalah ingin menarik minat generasi muda untuk lebih menekuni dan mengenal potensi musik tradisonal khas daerah Kaltim secara khusus.

Kegiatan Parade Musik Daerah ini yang bersifat apresiasif, evaluatif dan kompetitif, diikuti oleh peserta dari kontigen/diklat seni musik tradisi yang ada di 33 provinsi. Satu Kelompok diwakili 1 group dengan 7 hingga 15 orang peserta dan setiap peserta diberikan kebebasan untuk menentukan tema, kemudian peserta wajib menggunakan alat musik tradisional khas daerah selain itu, peserta juga harus memenuhi unsur pengamatan yang meliputi musikalitas, orisinalitas kedaerahan, harmonisasi, dan penampilan saat pentas musik.

Pj Kepala Bagian Diklat Bidang Budaya TMII Endang Sari Dewi mengatakan, acara ini digelar bertujuan untuk mempertahankan eksistensi musik tradisional dan melestarikan musik Nusantara.

Diklat Musik anjungan Kaltim tampil dengan durasi pentas 7 menit, walau tidak menyabet juara tampilan musik membawa judul “Serunai Me’kam” dengan penata musik Yosef Petrus tampil apik dengan membawakan warna musik khas Dayak dengan iringan “Sapeq” alat musik petik khas suku Dayak. Sementara itu, untuk tim penilai, pihak penyelenggara mengundang pengamat yang terdiri dari pakar dan seniman musik professional, berwawasan nasional, dan bertanggung jawab.

Menurut Novarita dengan keikutsertaan dalam Parade Tari Musik Daerah, Diklat Anjungan Kaltim ini diharapkan menjadi tolak ukur pencapaian para pengkarya seni, yakni seni musik daerah Kaltim.

Terutama karya-karya musik yang diangkat beralaskan tradisi dari 14 daerah kabupaten/kota masing-masing. Sehingga tradisi yang mungkin saja tidak populer lagi, bahkan di kawasan tradisi itu pernah berkembang, terangkat kembali ke permukaan.

“Semakin banyak anak muda yang peduli, maka semakin kuatlah tradisi serta seni mencintai seni musik daerah Kaltim,” kata Novarita belum lama ini.

Share Button

Ekonomi[ View All ]

Pertamina Tambah 500.000 Tabung Elpiji di Kalimantan

Pertamina Tambah 500.000 Tabung Elpiji di Kalimantan

PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region VI menambah pasokan 500.000 tabung elpiji 3 kg bersubsidi untuk lima provinsi di Kalimantan pada awal Desember 2017....
Warga Sanggau Keluhkan Langkanya Gas Tiga Kilogram

Warga Sanggau Keluhkan Langkanya Gas Tiga Kilogram

SANGGAU – Sejak beberapa pekan terakhir, elpiji tiga kilogram di Kabupaten Sanggau warga mengeluh kesulitan mencari sehingga berdampak terhadap naiknya harga elpiji subsidi tersebut....
Warga Singkawang Pertanyakan Alasan APBD Belum Disahkan

Warga Singkawang Pertanyakan Alasan APBD Belum Disahkan

SINGKAWANG – Warga Kota Singkawang mempertanyakan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Singkawang tahun 2018 hingga saat ini...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *