Nasib Nelayan ya Begitu-begitu Saja

Foto-foto : Kapal kayu kecil milik para nelayan di sekitar pantai Carita, Banten. Dan Weka sedang menambal jalanya.(OK/BK.co)

BANTEN – Nelayan di Pantai Carita, Anyer Banten takut melaut akibat angin kencang. Akibatnya mereka kehilangan mata pencaharian beberapa hari ke depan. Hal itu dikatakan salah seorang Nelayan, Weka (60) kepada BK.co, siang hari saat sedang memperbaiki jalanya, baru-baru ini di Anyer Banten.

Menurut Weka yang melaut dengan kapal kecil yang berkapasitas 4 orang, dalam sekali melaut hasil ikan tanggkapannya tidak menentu. “Kalau lagi bagus bisa dapat 50 kg sampai 70-an kg ikan tuna dan cumi,” ujarnya.

Dari hasil tangkapannya itu, Weka yang sudah puluhan tahun melaut mampu menghidupinya sehari-hari, sekarang Weka telah memiliki 15 cucu yang sudah tak terlalu berat tanggungannya. “Karena anak sudah berkeluarga dan menghidupi sendiri, ya palingan hasil melaut untuk saya dan kebutuhan biaya operasional kapal,” katanya.

nelayan

Weka memang bukan nelayan bermodalkan besar. Untungnya kapal milik dia sendiri. Kalau kapal sewa, hasil yang dibagi juga besar, “selain pemilik kapal, operasional kapal, dan baru kami nelayan sisanya untuk bagian kami,” ujarnya.

Hasil tangkapan dari mengais rezeki di laut, sebagai nelayan kecil, Weka biasanya langsung menjual ikannya ke pelelangan atau ke tengkulak. Untuk tuna per kilogram dibayar sekitar Rp30 ribu per kg sampai Rp35 ribu per kg. Tengkulak kemudian menjual sekitar Rp50 ribu per kg sampai rp65 ribu per kg. “Rata-rata hasil jual tengkulak juga sudah ada yang menampung, dari restoran hingga hotel.” katanya.

Beda jauh dengan Nelayan yang bermodalkan besar, selain menggunakan kapal besar dengan kapasitas 15 sampai 20 orang, hasil tangkapan juga besar. Kapal dengan harga ratusan juta sampai miliaran rupiah ini sekali melaut bisa berhari-hari, seminggu bahkan dua minggu baru kembali ke darat. “Operasional juga besar, sehingga hasil tanggkapannya juga besar,” kata Warsidi nelayan yang menggunakan kapal besar.

Mereka juga melaut hingga lautan lepas di tengah samudera, bahkan hingga ke perbatasan negara lain. “Kapal-kapal ini dimiliki pemodal besar, kita hanya sebagai nelayan saja, dan bagi hasil,” katanya.

Kemampuan nelayan seperti Weka memang mayoritas yang ada di Pantai Carita, kapal kayu kecil dan hasil tangkapan juga kecil. Sementara kapal-kapal besar dimiliki para tokeh atau pengusaha ikan. Selain kapal. para tokeh juga memiliki pelelangan ikan dan market yang sudah dikuasai dari hulu sampai hilir, pertanyaannya sampai kapan nelayan kecil mampu berkembang, bila modal mereka tak miliki. “Dari dulu sampai sekarang yang begini-begini aja mas, mana ada kami modal, punya kapal kecil saja sudah bagus, mana mungkin kami bisa memiliki kapal besar,” kata Weka.(OK)

 

Share Button

Ekonomi[ View All ]

Gubernur Cornelis Terima Penghargaan Pembina BPD Terbaik Indonesia 2017

Gubernur Cornelis Terima Penghargaan Pembina BPD Terbaik Indonesia 2017

SINGAPURA – Gubernur Kalimantan Barat Cornelis menerima penghargaan sebagai Pembina Perbankan Terbaik di wilayah yang dipimpinnya. Kali ini Cornelis sebagai kepala pemerintahan mendapat penghargaan...
Pemerintah Malaysia Siap Jalin Kerjasama Pemprov Kalbar

Pemerintah Malaysia Siap Jalin Kerjasama Pemprov Kalbar

Tertibkan Taksi Tanpa Izin PONTIANAK – Pemerintah provinsi kalbar bersama pihak pemerintah Negeri Sarawak, Malaysia menjalin kerjasama menertibkan taksi ilegal yang selama ini beroperasi...
Rumah Murah Bisa Terwujud

Rumah Murah Bisa Terwujud

PONTANAK  Gubernur Kalbar, Cornelis mengharapkan dengan adanya kerjasama bersama pihak Kejati dan REI kebutuhan satu juta unit rumah dapat tercapai. “Program perumahan dan kawasan...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *