Ngenesnya Nasib Guru Honor

Suasana sekolah dasar di negeri ini.(Ilustrasi)

KUBU RAYA – Disaat negara ingin memajukan rakyatnya dengan pendidikan yang baik tetapi negara dengan perangkat Pemdanya tak peduli akan nasib kesejahteraan pengajar atau guru yang setiap hari berjibaku dengan anak didik.

Apa mungkin seorang guru honorer bisa fokus dan konsentrasi mengajar dengan baik, mentransfer knowledge yang dimilikinya ke anak didik di sekolah dasar misalnya dengan gaji atau honor Rp400 ribu sebulan. Apalagi dalam sistuasi ekonomi yang tak menentu dengan harga-harga sembako semakin mahal ? bila Rp400 ribu kita bagikan 30 hari, hasilnya Rp13,300 per hari. Angka honor yang miris sekali. Untuk makan saja sudah tak cukup apalagi beli bensin, atau ban sepeda pecah dijalan. Bagaimana mungkin seorang guru honor bisa hidup dan menjalankan tugasnya sebagai pengajar ? disuruh lagi mengajar dengan baik dan benar ? apa ya kira-kira hasil didikkannya bila kesejahteraan guru honor berpenghasilan seperti itu ?

Ini yang terjadi saat ini. Di saat penguasa negara sibuk dengan pencitraannya, sementara pengajar dan anak didik setiap harinya harus berjalan. Dimana peran lembaga pendidikan dan mereka yang bertanggungjawab terhadap penilaian kesejahteraan pengajar berada ?

Itu guru honor, tentu beda dengan guru yang berstatus pegawai negeri. Karena standar gaji guru PNS sudah mendapat perhatian yang layak dari Pemerintah. Golongan tetendah di PNS bergaji sekitar Rp3,5 juta, bagaikan jurang dan bukit bila kita lihat curamnya gaji guru PNS dan Honor. Belum lagi guru honor ini berada di pelosok-pelosok negeri.

“Ya dicukup-cukupilah mas, habis kalau mau dirinci, ya jauh dari cukup,” ujar Siti Aisyah,(bukan nama sebenarnya) yang mengajar di wilayah Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Siti yang lulusan S1 ini kadang menyesalkan nasibnya, keinginannya menjadi guru berstatus PNS tentu menjadi impiannya, tetapi apa daya hanya sekadar impian karena menjadi PNS bukan persoalan mudah di negeri ini.

Jauh panggang dari api bisa dikatakan terhadap kebutuhan hidup dengn honor sebagai pengajar. Kadang dia pun frustasi, ingin keluar dari rutinitas sebagai pengajar, mencari kehidupan lebih baik. “Saya mencoba di perusahaan, mungkin melamar, saya kerja lebih baik, merubah kehidupan untuk lebih baik dan cukup, ya masih mencarilah,” katanya. Namun dengan rutinitas dan waktu yang setiap hari dilakoninya sebagai guru tak sempat ia menulis dan melamar ke perusahaan, sampai saat ini dia masih bergelut dengan profesinya sebagai guru honor.

Nasib Siti tentu dialami banyak guru honor lainnya, entah itu di Kabupaten lain atau di Provinsi lain di Indonesia. Nasib guru honor ini hidup dari pengasihan BOS setiap Provinsi dan Kabupaten yang di drop dari Pemerintah Pusat.

Namun dengan honor seperti itu seharusnya Pemerintah sudah menghitung rinci seberapa besar standar gaji honor saat ini. Jangan sampai anak murid tak bisa di didik dengan baik, karena siapapun tak akan mau bercita-cita menjadi pendidik bila kesejahteraan mereka tak diperhatikan. Upah buru saja sudah disesuaikan di masing-masing Provinsi, ini pengajar yang mengajar murid untuk masa depan bangsa di sekolah negeri,  sangat miris kesejahteraannya dan jauh sekali dari standar buruh pabrik. Ngenes ! ((OK)

Share Button

Ekonomi[ View All ]

Kebutuhan Gula Di Kalsel Anjlok

Kebutuhan Gula Di Kalsel Anjlok

BANJARMASIN– Ketua Asosiasi Gula Bersatu Kalimantan Selatan Aftahuddin mengatakan Kebutuhan gula di provinsi ini anjlok dari sebelumnya 12 ribu ton per bulan menjadi hanya...
Mentan Buka Hari Pangan Sedunia Di Kalbar

Mentan Buka Hari Pangan Sedunia Di Kalbar

KUBU RAYA – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman membuka peringatan hari pangan sedunia XXXVII yang digelar di Kubu Raya, Kalbar, Kamis. Peringatan hari pangan...
Ibu-ibu di Balikpapan Demo Dukung Transportasi Daring

Ibu-ibu di Balikpapan Demo Dukung Transportasi Daring

BALIKPAPAN – Ratusan ibu-ibu menggunakan kostum serba hijau dan membawa panci mendatangi gedung DPRD Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa, guna menyampaikan sikap menentang penutupan transportasi...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *