Penulis Kamus Melayu Sintang Terkendala Bahasa

SINTANG – Apa artinya ilmu pengetahuan jika tidak diabadikan dalam bentuk tulisan yang bisa diwariskan kepada anak-cucu. Semangat itulah sebenarnya yang menjadi dasar utama seorang Gusti Muhammad Fadli, ketika menulis Kamus Bahasa Melayu Sintang dan juga buku-buku sejarah Sintang yang lain.

Sayangnya, banyak kendala yang ia alami, mulai dari minimnya sponsor hingga kendala dalam penggunaan bahasa menjadi tantangan tersendiri baginya. Satu di antara yang harus ia tinggalkan secara permanen adalah pembuatan Kamus Bahasa Melayu Sintang yang sudah ia susun sejak 1998 lalu.

“Sebenarnya sudah hampir selesai, hanya saja karena terkendala ahli bahasa maka tidak saya lanjutkan untuk pembuatan Kamus Bahasa Melayu. Sekarang saya lebih konsen pada penulisan buku sejarah Sintang,” ujar GM Fadli ketika dikonfirmasi BK.Co di kediamannya di Kompleks Keraton Al Mukarammah Sintang, hari ini.

Padahal dijelaskan pria yang akrab disapa Aleng tersebut, kamus tersebut sudah hampir selesai penyusunannya. Namun karena khawatir muncul persoalan terkait bahasa, maka rencana tersebut dihentikan secara permanen.

“Sudah saya hentikan total kalau soal kamus, sekarang ada yang menyusun kamus baru tapi tidak melanjutkan apa yang sudah kita kerjakan. Kami hentikan karena khawatir ada kontradiksi penggunaan kata, misalnya untuk kata Jamban, kalau Melayu Sintang menyebutnya Jaman, untuk penulisan seperti ini yang kita tak pahami kaidahnya,” ujarnya.

Namun semangatnya untuk mengabadikan sejarah dan budaya Kabupaten Sintang diakui Fadli tidak berhenti dengan kondisi tersebut. Tak kurang dua judul buku sudah dilahirkannya, satu di antaranya yang menceritakan tentang Tokoh Pangeran Kuning yang dikenal sebagai penentang sejati Penjajahan Belanda di Sintang.

“Untuk buku Pangeran Kuning sudah kelar, dan Alhamdullilah cukup diterima pasar meskipun tidak bisa saya produksi secara massal karena kendala pada pendanaan. Tapi sudah cukup banyak yang saya cetak, meskipun hanya bermodal printer sendiri kemudian saya jual kepada mereka yang peduli dengan kerajaan Sintang,” katanya.

Kendala utama penerbitan buku menurutnya, murni pada minimnya perhatian yang diberikan pemerintah. Meskipun beberapa kali bupati berjanji memberikan dukungan tapi tak satupun direalisasikan dalam bentuk perhatian riil, sehingga keinginannya untuk memperkenalkan tokoh Sintang secara massif selalu terkendala.

“Saya inginnya seperti Buku Pangeran Kuning itu masuk ke sekolah-sekolah menjadi bahan bacaan, saya mau memberikan secara gratis. Cuma kan untuk mencetak ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit, itu yang menjadi kendala utama,” ujarnya.

Selain itu, dari narasumber penyusunan buku diakui Fadli, ia juga mengalami kendala pada minimnya tokoh Sintang yang masih hidup. “Dulu waktu saya menyusun buku Pangeran Kuning tokoh masih banyak yang hidup, sekarang sebagian besar sudah meninggal. Makanya untuk buku saya berikutnya termasuk tentang Buku Garuda Sintang sedikit terkendala,” pungkasnya.

Share Button

Ekonomi[ View All ]

Harga Ikan dan Ayam di Pontianak Naik

Harga Ikan dan Ayam di Pontianak Naik

PONTIANAK – Harga ikan dan ayam di sejumlah pasar yang ada di Pontianak dalam beberapa minggu terakhir mengalami kenaikan cukup signifikan bahkan mencapai di...
Presiden Ingin Warga Perbatasan Menikmati “Satu Harga BBM”

Presiden Ingin Warga Perbatasan Menikmati “Satu Harga BBM”

JAKARTA – Presiden RI Joko Widodo menginginkan masyarakat Papua di pegunungan dan perbatasan bisa menikmati harga BBM dan harga bahan pokok sama dengan wilayah...
Realisasi Investasi Kalbar Semester I Rp8,33 Triliun

Realisasi Investasi Kalbar Semester I Rp8,33 Triliun

PONTIANAK – Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kalbar mencatat realisasi investasi Semester I 2017 (Januari -Juni) di Kalbar mencapai Rp8,33...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *