Perahu Listrik Untan untuk Membantu Nelayan

Perahu Listrik Untan, solusi bagi nelayan menghemat bahan bakar.(Ist)

PONTIANAK – Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak menciptakan perahu listrik. Guru Besarnya, Prof Dr M. Ismail Yusuf dibantu dua mahasiswa dari Strata 1 dan Strata 2 universitas negeri tersebut, membuat alat transportasi air yang diberi nama Perahu Listrik Untan (PLU).

“Lahirnya PLU dilatarbelakangi oleh realita nelayan di Kalbar. Saya melihat nelayan di pulau-pulau dalam kesehariannya untuk mesin perahunya menggunakan bahan bakar dari fosil atau bensin. Ada juga menggunakan gas LPG. Namun kedua bahan bakar tersebut kadang langka dan kalau ada juga biasa harganya tinggi. Untuk itu saya berpikir keras mencari energi alternatif dan itu gratis,” ujar Ismail Yusuf di Pontianak saat uji coba mengendarai PLU, di Pontianak, kemarin seperti dikutip Antara.

Ismail menambahkan apa yang ia lakukan juga dalam rangka mendukung kebijakan pemerintahan mengurangi bahan bakar dari fosil dan mencari energi alternatif.

“Kita gunakan saja sinar matahari sebagai sumber energi listrik. Apalagi sinar matahari di Kalbar cocok untuk itu. Ditambah lagi saya ini orang elektro. Perahu ini tentunya bebas dari polusi dan `PLU go green`,” tuturnya.

Cara kerja PLU, menurut dia, pada tahap perdana menggunakan panel untuk menangkap sinar matahari dengan kapasitas 100 watt fix atau 200 volt. Kemudian untuk baterai dengan kapasitas 12 volt. Untuk Controler dengan 100 ampere.

“Kalau kita operasionalkan dan melihat daya yang mampu ditampung di baterai jika penuh maka akan bertahan untuk empat jam nonstop. Kalau panas matahari terus menerus maka sepanjang itu hidup,” kata dia.

Setelah dites di lapangan katanya secara kelistrikan maka sudah 100 persen sukses. Namun untuk penyesuaian antara kemudi dan tata letak betere yang mesti terus diperbaiki dari PLU.

“PLU ini kita buat waktunya sangat singkat. Prosesnya juga mudah karena kita bersifat merakit dan berinovasi dari peralatan yang ada. Semua bahan baku untuk produksi ada dalam negeri,” terangnya.

Untuk biaya produksi kata Ismail memang untuk investasi awal terbilang besar yakni kisaran Rp10 juta untuk satu PLU. Namun katanya jika dilihat keandalan mesin, kehematan dalam bahan bakar dan sejumlah manfaat lainnya maka investasi itu kecil.

“Kita perkirakan ini tahan 5-10 tahun. Secara keekonomian ini cukup. Kalau diproduksi dalam skala besar akan jauh lebih murah ” katanya.

Ia yang juga merupakan Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Untan berharap langkah awal ini akan terus berkembang lebih baik dan aplikasi keilmuannya dapat dimanfaatkan masyarakat.

“Soal keekonomian dan teknis lainnya akan terus kita kaji dan teliti. Saya dan dua mahasiswa saya yakni Joko dan Ardi akan terus mendalami ini. Kita berharap apa yang ada ini bisa terus dikembangkan,” kata dia.

Share Button

Ekonomi[ View All ]

Harga Ikan dan Ayam di Pontianak Naik

Harga Ikan dan Ayam di Pontianak Naik

PONTIANAK – Harga ikan dan ayam di sejumlah pasar yang ada di Pontianak dalam beberapa minggu terakhir mengalami kenaikan cukup signifikan bahkan mencapai di...
Presiden Ingin Warga Perbatasan Menikmati “Satu Harga BBM”

Presiden Ingin Warga Perbatasan Menikmati “Satu Harga BBM”

JAKARTA – Presiden RI Joko Widodo menginginkan masyarakat Papua di pegunungan dan perbatasan bisa menikmati harga BBM dan harga bahan pokok sama dengan wilayah...
Realisasi Investasi Kalbar Semester I Rp8,33 Triliun

Realisasi Investasi Kalbar Semester I Rp8,33 Triliun

PONTIANAK – Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kalbar mencatat realisasi investasi Semester I 2017 (Januari -Juni) di Kalbar mencapai Rp8,33...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *