Potensi Sungai Kapuas, Dari Wisata Sampai Produsen Kapal

Sungai Kapuas di Pontianak, Kalbar memberikan potensi besar terhadap perekenomian masyarakat setempat, selain wisata juga pabrikan kapal (speed) berskala home industri.(OK/BK.co)

Industri rumahan pembuatan kapal speed di jalan Kamboja Dalam tepian sungai Kapuas, Pontianak Kalimantan Barat, siapa sangka sudah berusia 30 tahun. Home industri ini dalam sebulan mampu memproduksi 2 – 3 buah kapal speed ukuran 40 pk serta 1 sampai 2 unit kapal ukuran 250 pk.

“Sekarang order buat kapal lesu, paling-paling pesanan dari dinas pemerintahan, kalau dulu banyak pesanan dari masyarakat,” tutur Ahwa kepada BK.co, Senin (29/6) di Pontianak.

Kemungkinan, lanjut Ahwa, minimnya pesanan kapal dari masyarakat karena beralih ke kendaraan roda empat dan infrastruktur jalan juga semakin baik. 

Ditempat Ahwa rerata kapal speed yang diproduksi dari fiber ini untuk ukuran kapal 40 pk seharga Rp18 juta, sedangkan mesin dan handle mencapai Rp57 juta. Sedangkan kapal untuk ukuran 250 pk yang juga berbahan fiber dan kayu sebagai tulang kapal dengan harga kisaran Rp150 sampai Rp200 juta sudah termasuk mesin 250 pk 2 unit.

IMG_20150629_170540

Ahwa tak menampik bila lesunya pesanan karena masyarakat mengandalkan daratan sebagai sarana transportasi, selain udara.

“Kalau dulu jalan rusak, apalagi musim hujan, mereka pasti mengandalkan kapal untuk transportasi,” katanya.

Disebutkannya pesanan masyarakat untuk kapal dulu kebanyakan dari Puttusibau, Kapuas Hulu, Sukadana, Teluk Melano, Ketapang dan Teluk Batang, Kubu Raya.

“Sekarang pesanan paling-paling dari instansi pemerintahan di Pontianak,” katanya.

Namun meskipun sepi order, Ahwa tetap menggeluti bisnisnya dengan tekun. Dia berpendapat masyarakat akan memilih mana yang terbaik dan cepat untuk sarana dan prasaranan transportasinya.

IMG_20150629_170535

Cafe dan Restoran

Selain industri pembuatan kapal, kini dipinggiran sungai Kapuas mulai tumbuh bisnis cafe dan rumah makan. Potensi sungai Kapuas sebagai wisata mulai dilirik masyarakat setempat, khususnya yang tinggal dipinggiran sungai kapuas.

Ada beberapa cafe yang baru muncul selain rumah makan. Di cafe-cafe tersebut, tamu bisa menyeruput kopi sembari menikmati panorama sungai dan duduk di atas sungai. Cafe-cafe ini akan terlihat cantik di waktu malam, dengan lampu disana-sini.

Sayangnya kepedulian pemerintah setempat Kota Pontianak cuek dengan minimnya sarana dan prasarana umum, seperti lampu penerangan jalan dan kondisi jalan yang aman. Jalan menuju lokasi terkesan berbahaya karena pinggiran sungai tidak dipagar.

Potensi yang sangat besar ini bagi perekonomian masyarakat setempat tidak diback up dengan penuh pemerintah Pontianak, padahal sepanjang pinggiran sungai Kapuas merupakan potensi bisnis wisata yang luar biasa, baik cafe, restoran dan perhotelan.(Odie)

Share Button

Ekonomi[ View All ]

Kebutuhan Gula Di Kalsel Anjlok

Kebutuhan Gula Di Kalsel Anjlok

BANJARMASIN– Ketua Asosiasi Gula Bersatu Kalimantan Selatan Aftahuddin mengatakan Kebutuhan gula di provinsi ini anjlok dari sebelumnya 12 ribu ton per bulan menjadi hanya...
Mentan Buka Hari Pangan Sedunia Di Kalbar

Mentan Buka Hari Pangan Sedunia Di Kalbar

KUBU RAYA – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman membuka peringatan hari pangan sedunia XXXVII yang digelar di Kubu Raya, Kalbar, Kamis. Peringatan hari pangan...
Ibu-ibu di Balikpapan Demo Dukung Transportasi Daring

Ibu-ibu di Balikpapan Demo Dukung Transportasi Daring

BALIKPAPAN – Ratusan ibu-ibu menggunakan kostum serba hijau dan membawa panci mendatangi gedung DPRD Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa, guna menyampaikan sikap menentang penutupan transportasi...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *