Ratusan Potensi Cagar Budaya Terdata di Melawi

MELAWI– Wajar apabila Melawi dikatakan salah satu kabupaten yang terkaya di Kalimantan Barat. Selain kaya akan hasil alamnya, juga kaya akan cerita sejarah yang meninggalkan sida benda hingga menjadi suatu cagar budaya. Hingga saat ini saja Dinas Pemuda dan Olahraga, Budaya dan Pariwisata (Disporabudpar) Melawi, sudah mendata kurang lebihnya sebanyak ratusan potensi cagar budaya.

Tak aneh jika hal itu terjadi. Namun untuk memastikan benda bersejarah yang terdata itu masuk kategori cagar budaya atau tidaknya, mesti ada penelitian dari arkeolog dan pihak cagar budayanya sendiri. Pasalnya, meskipun benda yang didata oleh Disporabudpar merupakan benda bersejarah, namun untuk masuk menjadi cagar budaya mesti berusia minimal 50 tahun.

Seperti benda yang belum lama ini ditemukan oleh Disporabudpar di daerah Kecamatan Belimbing Desa Batu Nanta. Benda itu bernama Batu Dayang Nanta yang konon katanya merupakan batu berupa manusia dengan batu asah yang memiliki cerita sejarah tersendiri. Tidak hanya itu, sekitar berjarak 20 meter dari Batu Dayang Nanta yang dikelilingi makan-makam tua itu, juga ditemukan sebuah mangkong berwarna putih dilubang dekat batu nisan makam.

“Konon katanya mangkok putih ini juga memiliki cerita sejarahnya. Terlebih mangkok itu berada di dekat Batu Dayang Nanta. Jika mendengar sedikit cerota dari Kepala Desa Batu Nanta, Batu Dayang Nanta itu memiliki sejarah tentang kerajaan. Itu tentu ada kaitannya dengan batu itu,” papar Paul Kabid Kebudayaan Disporabudpar,Kamis (22/5).

Keberadaan batu nanta sedikit menjanggalkan saat ditemukan oleh tim Disporabudpar. Pasalnya batu yang berada sekitar 200 meter dari jalan raya itu awalnya tidak terlihat dan hanya ada sebuah tiang saja pada saat tim masuk ke lokasi. Namun saat tim mau pulang, tiba-tiba seorang dari tim melihat tiang itu seperti tiang sandung. Apabila ada tiang sanding pastinya ada makam disekitaarnya.

Tim pun kembali masuk, yang tadinya pertama masuk tidak ditemukan makam, namun saat kembali kedua kalinya ternyata memang ada makam tua yang nisannya masih menggunakan batu. “Ada sekitar 5 batu nisan disana. Ada pula makan yang terbesar kurang lebih 2 meteran,” cerita Paul.

Dari lima batu nisan yang ada itulah, sebuah batu nisan tumbang yang disampingnya ada lubang, dan terlihat sebuah tempayan. Membuat tim penasaran hingga memasukan tangannya ke lubang. Ternyata saat di ambil, bukan tempayan namun sebuah mangkok. “Kamipun menanyakannya ke kepala dusun. Hingga sedikit cerita sejarahnya didapat, dan diperkuat dengan Batu Dayang Nanta yang berada kurang lebih 20 meter dari lubang mangkok itu,” pungkasnya.(Fiq)

Share Button

Ekonomi[ View All ]

Harga Ikan dan Ayam di Pontianak Naik

Harga Ikan dan Ayam di Pontianak Naik

PONTIANAK – Harga ikan dan ayam di sejumlah pasar yang ada di Pontianak dalam beberapa minggu terakhir mengalami kenaikan cukup signifikan bahkan mencapai di...
Presiden Ingin Warga Perbatasan Menikmati “Satu Harga BBM”

Presiden Ingin Warga Perbatasan Menikmati “Satu Harga BBM”

JAKARTA – Presiden RI Joko Widodo menginginkan masyarakat Papua di pegunungan dan perbatasan bisa menikmati harga BBM dan harga bahan pokok sama dengan wilayah...
Realisasi Investasi Kalbar Semester I Rp8,33 Triliun

Realisasi Investasi Kalbar Semester I Rp8,33 Triliun

PONTIANAK – Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kalbar mencatat realisasi investasi Semester I 2017 (Januari -Juni) di Kalbar mencapai Rp8,33...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *