Teluk Melano, Kampung Nan Indah di Ujung Serawak

melano

Siang hari pesawat Xpress Air yang ditumpangi penulis melesat tinggi ke angkasa, setelah take off dari Bandara Supadio Pontianak. Pesawat boeing 737 ini terbang menuju Ibu kota Serawak, Kuching.

Setelah 30 menit melintasi udara, tampak dari atas kota Kuching dan perkebunan-perkebunan sawit tertata rapi. Penataan kota bisa terlihat dengan jelas dari atas. Pinggiran sungai juga jelas terlihat dan daerah aliran sungai yang ditata sedemikian rapi.

Pendaratan yg sempurna dilakukan Xpress Air. Penumpang pun bergegas turun dengan beragam tujuan. Penulis pun siap menjalankan rencana yg telah dischedule-kan, yakni mengunjungi Teluk Melano dan tujuan akhir Desa Temajuk Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.

Taksi telah standby menunggu diluar airport, siap membawa ke terminal bus di Kuching Sentral. Dari bandara Kuching ke Kuching sentral cuma memakan waktu 10 menit, dengan ongkos 16 RM.

Setiba di terminal bus yang bersih dan teratur serta terhubung dengan pusat belanja, kita dapat menbeli tiket bus seharga 16 RM untuk tujuan Sematan. Rute bus dari Kuching Sentral ke Mundu dan Sematan, tetapi bila sampai Mundu saja harga tiket 14 RM.

Selagi menunggu bus berangkat, kita dapat santai sejenak ngopi diwarung samping terminal. Tetapi ingat jam setempat maju satu jam dari waktu Indonesia atau WIB. Bila tertinggal bus, tiket hangus dan mau tak mau membeli tiket baru serta menunggu pemberangkatan selanjutnya, itupun bila ada bus yang menuju ke tempat yang kita tuju.

Perjalanan dari Kuching Sentral ke Sematan sekitar 2 jam, melewati jalanan yang mulus dan panjang. Sepanjang jalan yang tak padat ini kita bisa lihat suasana pinggiran kota Kuching, rumah-rumah masyarakat setempat.

Setiba di Mundu, bus mampir di terminal Mundu untuk mengangkut penumpang yg hendak menuju Sematan , tanpa ngetem lama penumpang seadanya dan sepertinya tepat waktu, bus pun melanjutkan rute Mundu – Sematan.

Tiba di Sematan, hari menjelang malam, kota Sematan terlihat sepi. Hanya tampak sebagian kecil toko yang masih buka. Di Sematan tersedia hotel-hotel kecil dengan fasilitas sekedarnya, tetapi bersih. Malam hari Sematan little town ini sangat sunyi, satu dua warung nasi dan kopi yang buka.

Dari Sematan inilah kita akan menyebrang esok harinya ke Kampung Teluk Melano menggunakan speed boat berpenumpang maksimal 10 orang.  Menyebrangi laut lepas dengan waktu tempuh sekitar 1 jam.

Hamparan laut dan bukit pemandangan indah menuju Teluk Melano dengan speed boat masyarakat dari Sematan.(OK)
Hamparan laut dan bukit pemandangan indah menuju Teluk Melano dengan speed boat masyarakat dari Sematan.(OK)

Speed penyebrangan ini rata-rata dioperasikan warga Teluk Melano. Sekitar jam 8 pagi sampai sore hari speed mengangkut penumpang dan barang ke Teluk Melano.

Dari kejauhan tampak bukit dan hijaunya pulau dihiasi pohon-pohon kelapa. Teluk Melano yg dituju siap menyambut Anda dengan home stay – home stay yang disediakan penduduk setempat. Setelah membayar speed 30 RM kita bisa langsung reservasi ke home stay dengan tarif rata-rata 50 sampai 60 RM per malam.

20140605_074808
Fasilitas home stay, selain kamar tentu makan siang, malam dan breakfast. Home stay yang penulis singgahi kebetulan rumah kepala kampung Teluk Melano, Muhammad Pani. Saat itu sekitar jam 2 siang Pak Ahmad, panggilan keseharian kepala dusun sedang berada di kebun karet. Pak Ahmad berusia sekitar 60 tahun ini merupakan keturunan Padang, Sumatera Barat, sedangkan istrinya keturunan Bugis.

Usai Ashar waktu setempat saatnya melihat-lihat suasana kampung Teluk Melano. Kampung ini tidaklah begitu luas, tetapi lengkap. Fasilitas listrik yang disediakan saat itu menggunakan genset, sayangnya listrik solar sedang mengalami kerusakan. “Baterainya rusak, sudah 3 bulanan belum diganti,” kata Pak Ahmad.

Selain gardu baterai listrik solar, terdapat juga kantor polisi dan tempat ibadah. Rumah di Teluk Melano rerata masih rumah panggung yang mayoritas dari kayu. Kampung ini persis seperti kampungnya Ipin dan Upin.

Di Melano terdapat juga gedung sekolah dasar dan smp berlantai 3 yang kontras sekali dengan keadaan kampung itu. Melano memiliki pantai dan bukit. Selain bisa menikmati suasana pantai, kita juga menikmati suasana alam hutan, naik ke bukit. Sayangnya di Melano tidak menyediakan peralatan diving ataupun snorkling, padahal terumbu karang di Melano khabarnya cukup indah. Wisata menyelam ini belum dikembangkan secara maksimal. Masyarakat setempat sepertinya masih galau dengan bisnis pariwisata. Mereka masih mengandalkan perkebunan karet sebagai mata pencarian utama, selain sesekali menangkap ikan. Tak ada yang memikat selain ketenangan daerah ini,  jauh akan hiruk pikuk perkotaan.

Gerbang batas dari Teluk Melano Serawak menuju Desa Temajuk, Kalimantan Barat.(OK)
Gerbang batas dari Teluk Melano Serawak menuju Desa Temajuk, Kalimantan Barat.(OK)

Dari Melano kita bisa masuk kampung Indonesia, Desa Temajuk, melewati pos batas di kedua negara tersebut. Dua desa yang berdekatan ini sejak dulu memiliki rasa persaudaraan yang kental. Mereka saling kunjung mengunjungi tanpa ada gap atau jarak meskipun dipisahkan garis batas atau warga kenegaraan. Mereka merasa senasib dan serumpun karena berada dan tinggal di ujung negeri di dua negara.

Hingga pada akhirnya mereka mulai merasa renggang setelah pihak Indonesia melalu TNI membangun pos jaga dengan jam masuk dan keluar yang ketat. Meskipun Melano juga memiliki pos jaga yang lebih representatif,  tetapi Tentara di Raja Malaysia tak terlalu kaku dan ketat menyeleksi masyarakat yg keluar masuk. Bahkan tentara Malaysia cenderung acuh tak acuh.

Pembangunan pos jaga yang dibangun TNI tentu beralasan, apalagi setelah diketahui pihak Malaysia membangun mercusuar di zona bebas Indonesia. Sejak itu pos jaga dengan tentara tentara muda, mau tak mau suka dan tak suka menjalankan perintah dengan waktu keluar masuk yang ditentukan. Mereka yang menjaga perbatasan tentu didasarkan tugas atau pekerjaan, bukan karena rasa persaudaraan antara dua kampung yang telah rukun sejak dulu. Penjaga pos ataupun perbatasan bisa sewaktu-waktu diganti atau dipindahkan, sehingga bisa jadi rasa kepedulian ataupun kekeluargaan yang dirasakan masyarakat setempat baik Melano dan Temajuk bukan urusan penjaga batas. Sehingga ketika peraturan baru dibuat ketat, masyarakat pun mengerti, meskipun terkadang terjadi kesalahpahaman antara masyarakat setempat dengan petugas TNI.

Penulis pun sempat dihardik dan diceramahi saat ingin melintasi pos disaat jam portal telah ditutup. Memang mereka (penjaga) terlalu kaku sangat disiplin meskipun keadaan disana biasa-biasa saja. Suasana yang biasa dan harnonis kadang dapat renggang dengan penjagaan yang terkadang lebay.

Desa Temajuk telah berubah. Jalan desa sudah dibangun mulus. Temajuk pun kini bisa dimasuki mobil. Ada 6 warga Temajuk yang kini telah memiliki mobil. Sedikit berbeda dengan Melano. Dulu sekitar 3 – 4 tahun lalu Melano yang terlihat maju, kini sebaliknya. Hanya saja ada sebagian jalan sekitar 20 km dari Paloh ke Temajuk yang belum selesai dibangun, begitupun dengan jembatan. Sebagian masih jembatan kayu, swadaya masyarakat setempat.

Mata pencarian warga Temajuk, baik dusun Camar Bulan dan Maludin kinipun meningkat dengan usaha kebun sawit. Selain lada dan menangkap ikan, masyarakat Temajuk dibantu perusahaan sawit yang investasi di wilayah itu, juga memulai usaha kebun sawit. Masuknya perusahaan sawit tak lepas karena telah terbukanya akses ke Temajuk dengan dibangun dan diperbaikinya jalan di wilayah itu. Perubahan dan peningkatah ekonomi warga akan semakin berkembang lagi bila akses komunikasi dan infrastruktur serta kesehatan terus ditingkatkan.

Selain perkebunan, bisnis wisata di desa itu juga bisa dimaksimalkan. Keindahan Temajuk jauh lebih bagus ketimbang Melano. Hanya saja kembali kepada infrastruktur yang ada, selain jalan, listrik merupakan sarana penting membangun ekonomi masyarakat. Persoalan listrik ini tak ada habisnya, entah sampai kapan listrik tersedia dengan baik disana, hanya Tuhan sajalah yang tau jawabannya.

Potensi wisata Temajuk yang dipadu dengan perkebunan tentu menjadikan peluang masyarakat dan pendatang. Kebutuhan infrastruktur pelabuhan dan listrik ini dinilai mendesak. Karena bilamana masyarakat cenderung bertambah dan hijrah ke daerah itu, ditambah lagi wisatawan, maka persoalan batas ini tak bakal lagi muncul karena persoalan batas dengan sendirinya terjaga oleh masyarakat.(Odie Krisno)

Share Button

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *