Tenun Ikat Dayak Masuk Nominasi UNESCO

images(100)

SINTANG – Keseriusan Pemerintah Kabupaten Sintang dan kerja keras para pengrajin tenun dalam melestarikan tenun ikat Dayak menghasilkan penghargaan dari The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) dengan dimasukannya tenun ikat Dayak menjadi salah satu nominasi yang akan diakui oleh UNESCO, sebagai salah satu warisan budaya tak benda oleh badan khusus PBB.

Hal tersebut terungkap saat Bupati Sintang, Milton Crosby, didampingi Ketua Dekranasda Sintang Katty Evelina Milton Crosby, Kadis Perindagkop dan UKM Sudirman, Kadis Pariwisata dan Kebudayaan H. Senen Maryono dan Kabid Museum Siti Musrikah menerima lima orang peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Peneliti Budaya dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta, di Pendopo Rumah Jabatan Bupati Sintang, kemarin.

Pimpinan rombongan para peneliti tersebut Damarjati Kunmarjanto, menyampaikan pihaknya mendapat tugas dari Kemendikbud untuk melakukan penelitian khusus warisan budaya khususnya tenun ikat.

“Tenun ikat Dayak Kabupaten Sintang, direkomendaskan untuk mendapatkan penghargaan dari Unesco atas pelestarian tenun ikat Dayak yang sudah dilakukan Pemerintah Kabupaten Sintang bersama para pengrajin. Kami sudah melakukan pengumpulan data ke Desa Ensaid Panjang. Selain tenun ikat Dayak, ada juga kain songket, angklung, ulos, noken dan tor-tor yang masuk nominasi,” kata Damarjati.

Dilansir dari Pontianak Pos Ia mengatakan, tenun ikat dianggap warisan suku Dayak yang harus dilestarikan. Hasil penelitian akan dimasukan ke dalam formulir yang akan menjadi penentu apakah tenun ikat layak mendapat pengakuan dari Unesco di Paris Perancis. Dan film dokumenter yang dibuat menjadi salah satu faktor pendukung.

Sementara Bupati Sintang, Milton Crosby, menyampaikan rasa bangganya karena tenun ikat Dayak bisa masuk nominasi untuk diakui oleh UNESCO.

Milton bangga dan menyambut baik upaya dari Kemendikbud untuk mengajukan tenun ikat menjadi salah satu warisan dunia. Supaya tenun ikat Dayak tidak seperti reog ponorogo yang diklaim Malaysia meskipun memang Dayak di Sintang dengan Sarawak adalah satu rumpun. Tetapi memang tenun ikat ini asli milik masyarakat Dayak Desa.

“Kami memang selama ini terus menerus melakukan pembinaan kepada para pengrajin tenun bekerjasama dengan Pastor Jack Maessen melalui Yayasan Kobus, Koperasi Jasa Penenun Mandiri. Kami selama ini sudah memberikan bantuan alat tenun bukan mesin, melaksanakan festival tenun ikat setiap tahun yang juara 1-5 tidak djual tetapi disimpan di Museum Kapuas Raya, fashion show pakaian berbahan tenun ikat, membantu mempromosi dan menjual tenun ikat, dan melakukan pembinaan,” kata Milton.

“Keaslian dari tenun ikat adalah karena ditenun dengan alat tenun bukan mesin, pewarna kain berasal dari tumbuh-tumbuhan, pembuatan motif juga bersumber dari mimpi dan fenomena alam, tahap pembuatan satu kain tenun juga ada 22 tahap sehingga tenun ikat ini mendapatkan penghargaan Upakarti dari Presiden Republik Indonesia. Karena keunikan dan keasliannya ini, maka tenun ikat tidak bisa diproduksi dalam jumlah besar,” tambah Bupati.

“Dalam tenun ikat ini ada pesan religius, kekeluargaan dan pelestarian lingkungan sesuai dengan motifnya. Jumlah para pengrajin yang bernaung dalam Yayasan Kobus dan Koperasi Jasa Menenun Mandiri ada 1.500 ibu-ibu penenun yang tersebar di beberapa desa,” ungkap Milton.

Para peneliti budaya ini memiliki agenda di Kabupaten Sintang seperti mengunjungi Museum Kapuas Raya, menggelar Focus Discussion Group dan menghadiri pergelaran seni budaya multi etnis.

Share Button

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *