Tiga Pilar Panduan Kalbar untuk Green Growth

Foto-foto : Gubernur Kalbar Cornelis memaparkan program pembangunan hijau untuk Kalimantan Barat di Maroko, serta Gubernur dengan Ibu Frederika Cornelis dan rombongan.(Ist)
Lapopran Perjalanan Gubernur Kalbar di Maroko

MAROKO – Provinsi Kalimantan Barat sudah mencanangkan untuk melakukan pembangunan hijau (Green Growth) yang ramah lingkungan dengan berbasis komoditas sebagai upaya untuk mendukung Kontribusi Pemerintah Indonesia (NDC) dalam menurunkan emisi gas rumah kaca dan deforestasi. Fokus dari pembangunan adalah petani, dan masyarakat adat yang tinggal di kawasan hutan. Mereka adalah tokoh utama yang berperan penting dan berada di tingkat tapak.
 
Sebagai salah satu anggota dari Governor’s Climate and Forests Task Force, pembangunan Provinsi Kalimantan Barat dalam upaya menurunkan emisi, Gubernur Kalbar Cornelis di Maroko baru-baru ini mengatakan hal tersebut mengacu kepada 3 pilar utama, yakni: Bekerja sama dengan Kepolisian, TNI, perusahaan, masyarakat dan mitra lain sangat serius dalam menangani kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang telah menjadi masalah tahunan.
“Serta untuk mengatasi permasalahan tersebut secara permanen, kami memperbaiki kondisi hutan dan lahan gambut. Kami telah membentuk tim restorasi gambut Provinsi dalam mendukung kerja Badan Restorasi Gambut dengan tugas utamanya melakukan restorasi gambut dengan rewetting, revegetasi, dan revitalisasi ekonomi,” katanya.
maroko-aja-aja
 maroko-lagi-2Disebutkannya ada tiga pilar yang dibangun, yakni, Pilar Pertama yakni memperkuat Kesatuan Pengelolaan Hutan, Mengendalikan Penggunaan Ruang dan Tata Kelola Ijin. Pilar Kedua, yakni membangun kemitraan dengan Pihak Swasta untuk memastikan rantai pasok komoditas diproduksi secara berkelanjutan dan ramah lingkungan, dan Pilar Ketiga yakni menjamin pembangunan rendah emisi yang inklusif dengan keterlibatan aktif masyarakat adat dan petani kecil.
 
“Ketiga pilar tersebut menjadi panduan kami dalam mewujudkan upaya pembangunan hijau yang sudah mulai dikembangkan sejak beberapa tahun terakhir melalui kerjasama berbagai pihak. Sebagai contoh untuk Pilar Pertama, sejak tahun 2010 telah terbangun dan mulai beroperasi lima KPH di lima kabupaten, yaitu Kapuas Hulu, Sintang, Ketapang, Melawi dan Kubu Raya,” tuturnya.

Keberhasilan sektor pertanian khususnya tanaman pangan dan hortikultura adalah syarat mutlak agar kebutuhan hidup masyarakat dan petani kecil di terpenuhi. Oleh karena itu sejalan dengan pemerintah pusat, kami mengagendakan 4 program sukses pertanian untuk mencapai Ketahanan pangan dan kemakmuran masyarakat petani Kalbar.
 
Ke empat program utama tersebut adalah; 1) Swasembada pangan dan swasembada berkelanjutan; 2) Diversifikasi Pangan; 3) Peningkatan daya saing dan nilai tambah; dan 4) Peningkatan kesejahteraan petani. Ke empat program tersebut telah dijabarkan dan dilaksanakan dalam berbagai bentuk kegiatan pembangunan yang langsung menyentuh ke masyarakat dan petani kecil melalui kerjasama Dinas Kehutanan Provinsi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Pemerintah Federal Jerman melalui GIZ-FORCLIME, FFI, Perkumpulan Sampan dan mitra lainnya.
Bahkan untuk Pilar Ketiga, Demonstration Activity REDD+ (DA-REDD+) yang dikelola masyarakat di 16 desa telah mulai dikembangkan di wilayah KPH Kapuas dengan total luas kawasan hampir 1 juta hektar Hulu tahun 2011 melalui program Kehutanan dan Perubahan Iklim (FORCLIME) kerjasama Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah Federal Jerman, dimana salah satu luaran terpentingnya adalah perhitungan stok karbon hutan (FREL tier 3) dan kapasitas masyarakat desa dalam pengelolaan sumberdaya hutan berkelanjutan.
 
Namun demikian, untuk mengintegrasikan semua upaya yang telah dilakukan dan membangun sinergisme antar semua pihak di tingkat provinsi kedepan, dari investor untuk pembangunan energi terbarukan, atau dari investor komersial, impact investor dan juga donor internasional dalam mendanai dan berinvestasi membantu kegiatan pihak swasta dan petani kecil dalam berproduksi dengan harus memperhatikan dan memasukan unsur proteksi hutan dan lingkungan didalam perjanjian kerjasama investasinya.
Share Button

Ekonomi[ View All ]

Harga Ikan dan Ayam di Pontianak Naik

Harga Ikan dan Ayam di Pontianak Naik

PONTIANAK – Harga ikan dan ayam di sejumlah pasar yang ada di Pontianak dalam beberapa minggu terakhir mengalami kenaikan cukup signifikan bahkan mencapai di...
Presiden Ingin Warga Perbatasan Menikmati “Satu Harga BBM”

Presiden Ingin Warga Perbatasan Menikmati “Satu Harga BBM”

JAKARTA – Presiden RI Joko Widodo menginginkan masyarakat Papua di pegunungan dan perbatasan bisa menikmati harga BBM dan harga bahan pokok sama dengan wilayah...
Realisasi Investasi Kalbar Semester I Rp8,33 Triliun

Realisasi Investasi Kalbar Semester I Rp8,33 Triliun

PONTIANAK – Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kalbar mencatat realisasi investasi Semester I 2017 (Januari -Juni) di Kalbar mencapai Rp8,33...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *