Usaha Batu Kecubung Raup Keuntungan Jutaan Rupiah

Yadi Harapkan Pemerintah Dapat Memperhatikannya

Berawal dari hobi membuat batu cincin jenis kecubung, Tri Juliardi alias Yadi (33) bisa meraup keuntungan hingga jutaan rupiah, baik dari lokal di Kabupaten Ketapang, bahkan sampai ke pulau Jawa. Dalam sehari, Yadi bisa membuat 20 buah batu sesuai dengan pesanan hanya dalam waktu 20 menit saja. Namun sayang, dari awal menajalankan usaha, tak sedikitpun ada peran serta Pemerintah setempat memberikan bantuan atas usahanya lantaran menggunakan peralatan secara manual.

Walau menggunakan peralatan seadanya dan secara manual, hanya gerenda untuk merapikan batu cincin, sepeda bekas untuk mesinnya, dan beberapa alat pendukung lainnya, Yadi tekun menjalani bisnisnya tersebut. Tak jarang banyak masyarakat yang mendatanginya untuk meminta dibuatkan batu cincin jenis kecubung ini. “Kita terima jasa, ada konsumen yang membawa bahan sendiri, kita bantu pengolahannya, untuk jasa 10 terima jasa 10, jadi 20 buah perhari. Pesanan tergantung mereka minta berapa, ukuran sedang sesuai warna perbulannya sekitar 150 biji,” katanya.

IMG_20141021_180236

Dari proses pemotongan hingga finishing, dirinya mengaku dikerjakan tanpa dibantu mesin sedikitpun, yang tentunya apabila salah sedikit saja dalam pengerjaanya maka akan berakibat fatal berupa kerusakan dari batu yang akan dipakai bahkan hingga luka lantaran alatnya seluruhnya terbuka. “Padahal panas, tapi tetap di tahan lemnya karena dibakar secara manual dengan menggunakan korek api, kemudian digosok dengan menggunakan amplas kasar untuk meratakan, amplas halus untuk merampungkannya,” lanjutnya

hal lain yang turut menjadi keluhannya yakni saat akan memotong bahan baku batu kecubung yang masih berbentuk batu besar, maka gerenda yang harus digunakan yang ditempelkan di badan sepeda kebekas. “Bahan baku, kalau batunya besar, maka harus dipotong dengan gerenda, finishingnya menggunakan amplas kasar, sedang dan terakhir amplas halus, Paling susah ukurannya, ukuran lebih besar lebih dari 20 menit,” tambahnya.

Usaha yang ditekuni semenjak tahunan ini merupakan warisan dari ayahnya yang juga senang dengan keindahan Batu Kecubung.

“Awalnya saya melihat saja saat kelas dua smp dari orang tua anggota polri pensiunan, karena saya hobi akhirnya belajar, hingga menekuninya satu tahun belakangan ini,” lanjutnya

Dirinya menyatakan, banyak masyarakat mendatanginya untuk dibuatkan, ada yang membawa batunya sendiri, ada pula seluruhnya prusksinya. Sejauh dari buatannya selama ini, belum pernah diperlihatkan ke luar Ketapang ataupun di dalam Ketapang. “Banyak yang datang, ada dari Medan, Jawa, Pontianak, bahkan Jakarta minta dibuatkan. Kalau untuk pameran kita belum pernah memang, tapi ada rencana nanti akan melakukan,” harapnya. 

Terkait budget yang ditawarkan setelah batu yang dipesanpun bervariasi, mulai dari Rp50 ribu untuk ukuran kecil, bahkan hingga puluhan juta tergantung besar dan tingkat kesulitan pembuatannya. “Per biji 50-70 ribu rupiah, kalau jual 100-smp puluhan juta rupiah. Tergantung kualitas batu, kepekatan warna, bersih, kristal, tergantung besaran, memiliki nilai jual yang tinggi hingga puluhan juta rupiah,” katanya. 

Saat BeritaKalimantan.co menemuinya ditempat ia membuat Batu Kecubung, Yadi memberikan tips bagaimana cara membedakan batu kecubung asli dan palsu yakni hanya menggunakan air saja.

“Membedakan batu asli dan tiruan, kecubung identik dengan air, mengujinya dengan media air, tidak terlepas dari unsur serat pada batu karena dasar warna dari kecubung itu sendiri,” ucapnya.

Dari hasil selama ia menggeluti usaha membuat batu cincin kecubung, setelah dikumpulkan hasilnya ia dapat membeli rumah sendiri hingga tidak lagi menumpang tinggal di rumah mertua, ditambah dengan beberapa kapling yang sudah menjadi hak miliknya. “Membeli rumah sendiri, beberapa kapling tanah di Ketapang,” lanjutnya.

Ia berharap, lantaran banyak yang mendatanginya luar dari daerah Ketapang, pemerintah dapat memberikannya tempat khusus maupun peralatan yang layak hingga ia tidak lagi menggunakan peralatan manual seperti saat ini.

Dirinya menilai dengan banyaknya yang datang, momen tersebut dapat dijadikan asset bagi pemerintah karena untuk di Kabupaten Ketapang saja banyak memproduksi Batu Kecubung asli dari daerah Ketapang.(Foto: Syamsul Arifin)

Share Button

Ekonomi[ View All ]

Pertamina Tambah 500.000 Tabung Elpiji di Kalimantan

Pertamina Tambah 500.000 Tabung Elpiji di Kalimantan

PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region VI menambah pasokan 500.000 tabung elpiji 3 kg bersubsidi untuk lima provinsi di Kalimantan pada awal Desember 2017....
Warga Sanggau Keluhkan Langkanya Gas Tiga Kilogram

Warga Sanggau Keluhkan Langkanya Gas Tiga Kilogram

SANGGAU – Sejak beberapa pekan terakhir, elpiji tiga kilogram di Kabupaten Sanggau warga mengeluh kesulitan mencari sehingga berdampak terhadap naiknya harga elpiji subsidi tersebut....
Warga Singkawang Pertanyakan Alasan APBD Belum Disahkan

Warga Singkawang Pertanyakan Alasan APBD Belum Disahkan

SINGKAWANG – Warga Kota Singkawang mempertanyakan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Singkawang tahun 2018 hingga saat ini...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *