Warga Buleleng Budi Dayakan Ikan Tuna Kualitas Ekspor

image

ikan tuna kualitas ekspor.(Ist)

JAKARTA – Kalangan nelayan di Desa Penyabangan, Kabupaten Buleleng, Bali bagian Utara membudidayakan ikan tuna karena memiliki potensi ekspor dan nilai ekonomis cukup tinggi. “Kami melakukan budi daya ikan tuna dibantu Balai Besar Riset Perikanan Budi Daya Laut Gondol, Kecamatan Gerokgak,” kata Nurjaya, salah seorang pembudi daya tuna di daerah itu, Jumat (26/8).

Ia menjelaskan, pengembangan budi daya pembesaran benih tuna dari alam di daerah yang berjarak sekitar 47 kilometer dari Kota Singaraja itu pernah dirintis sejak beberapa tahun lalu bersama sejumlah nelayan di daerah itu. Adapun pembibitan ikan tuna kecil memakai sarana keramba jaring apung untuk menjadi indukan. Selanjutnya jika bibit ikan tuna mulai membesar akan dipindahkan ke tempat yang lebih luas.

Nurjaya juga memaparkan beberapa kelebihan dari upaya budi daya tuna. Antara lain waktu produksi bisa dikontrol hingga 200 hari setiap tahun. Selain itu, dia mengatakan penanganan ikan tuna setelah panen juga dapat dilakukan lebih cepat dan efisien sehingga menurunkan kadar histamin yang bersifat alergik.

Selama ini pihaknya memasarkan hasil budi daya ke beberapa pengepul yang nanti membawa ke negara-negara di kawasan Asia dan juga beberapa negara lainnya di belahan dunia. “Nanti sudah ada pengepul yang membawa. Kerja sama sudah dilakukan sejak dulu,” tandasnya seperti dikutip republika.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat, Bali selama bulan Juni 2016 mengekspor ikan dan udang senilai 10,71 juta dolar AS. Ekspor tersebut meningkat 26,76 persen dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 8,45 juta dolar AS.

Perolehan tersebut dibandingkan dengan bulan sebelumnya (Mei 2016) merosot 13,25 persen. Larena pada Mei 2016 pengapalan ikan dan udang itu menghasilkan 12,34 juta dolar AS.

Ekspor ikan dan udang tersebut mampu memberikan kontribusi sebesar 22,30 persen dari total nilai ekspor Bali sebesar 48,05 juta dolar AS selama bulan Juni 2016. Angka ini meningkat 15,34 persen dibanding bulan sebelumnya yang tercatat 41,66 juta dolar AS.

Ikan dan udang merupakan salah satu dari lima komoditas andalan ekspor Pulau Dewata yang memberikan kontribusi terbesar. Menyusul produksi perhiasan (permata) 14,74 persen, produk pakaian jadi bukan rajutan 10,75 persen, produk perabot, penerangan rumah 10,18 persen serta produk kayu dan barang dari kayu 9,85 persen.

Ikan dan udang yang dikapalkan dari Bali paling banyak menembus pasaran Amerika Serikat yang menyerap 31,06 persen. Menyusul Jepang 21,65 persen, China 12,64 persen dan Australia 4,90 persen.

Share Button

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *